kepompong-kupukupu

It is start as an ugly and weak creature. Nobody look at it as if it is not existed. But it grows slowly as if nobody realize. The wind blows it, the trees doesn't want it there, so it covered itself by nature color, trying to blend. It is trying to hide. But there is no place to hide. It has to go .... and it flies .... without knowing, how beautiful creature it be.... when it flies....

Sunday, July 03, 2005

Everything not always about you!!

Lihat matanya...dia memperhatikan ku..
Lihat tangannya..ia menunjuk ku..
Lihat langkahnya...ia berjalan kearah ku..

Oh..dia begitu membenci ku
Dia begitu menyanjung ku..
Perkataan itu ditujukan untuk ku
Yang di maksud diTulisan itu..adalah aku

Hujan salju itu turun karena ku..
Kekeringan itu... akibat ku(?)



Please deh...Beat it
Can you see..can you feel
you are not the Universe............





















Tuesday, June 14, 2005

Kuai Zi (Chopstick)

Old Chinese proverb say that' s a pair of chopstick is the symbol of togetherness.

One chopstick won't work without the other. It is made to fit and complete each other. A chopstick can't be longer, shorter or fatter than it's partner. One should give good supports to the other.

Marriage has the same idea. Two people with different character, mind and thought have been shaped to complete each other. As both chopstick were being prepared and molded, a good couple had also been prepared & learned to suit each other.

Surely with the love of God, they will be able to do many great things together.

Just like a pair of chopstick, a pair of chopstick made by God, be used for bringing the glory of God



So they are no longer two but one flesh.
What therefore God has joined together,
let not man put asunder


Happy Wedding Lulu & Didi
remembering on 11 June 2005

novi

Saturday, June 11, 2005

dear lulu & didi

pencarian, penantian dan kesabaran bukanlah hal yang sia-sia.
berharga sekali mendapatkan orang yang kita cintai dan mencintai kita.

luv
eva

Tuesday, June 07, 2005

Kejar Kejora

Aku terbangun dari tidurku. Di luar dingin. Tapi di atas sana, langit indah. Bulan yang malu kenakan selendang awan tipis untuk tutupi sebagian wajahnya. Tapi malam ini dia keluarkan pancaran terbaiknya. Karena dia bahagia dia tidak sendiri. Bintang-bintang keluar dari persemayamannya dan bermain-main dengan sinarnya. Entah bercengkerama ceria dengan bintang lainnya. Entah menggoda bulan dengan genitnya.

Di timur, ada satu bintang yang beda. Dia memang yang paling terang. Padahal paling jauh. Angkuh tak balas sapa bintang lain. Tak pernah mengedip. Tak pernah bergeming. Hanya terus mempesona dengan cahaya surgawinya. Dia yang kupuja. Kejora.

Ini saatnya kupetik dia dari taman angkasa, lalu ku bawa pulang terangi rumah. Aku ambil mantel terbaikku, hempaskan pintu kamar, berlari mengambil tangga.

Gema langkahku di lorong bangunkan dia.
"Mau ke mana?"
"Ambil tangga. Jatuhkan kejora"
"Butuh bantuanku?"

Aku diam tak menjawab. Kupikir aku mampu sendiri.
"Tunggu. Aku ambil mantelku dulu. Tangganya pasti berat. Setidaknya aku bisa sumbang tenaga, usung tangga."

Dan kami gotong tangga itu berdua. Berlari tergesa, karena dia mengerti kejora tak muncul setiap waktu.

Dia pecahkan keheningan yang membentangi kami. "Tunggu!
Kita tak perlu ajak Ia?"
"Ia pasti sudah terlelap. Lagian dia paling tidak suka keluar saat dingin begini."
"Ajaklah. Lagipula kita kan lewati rumahnya. Ia pasti akan turut pergi."

Aku turuti idenya dan kami berhenti ketuk pintu rumah ia. Setelah beberapa saat, ia muncul dengan muka sedikit marah.

"Ada apa malam-malam ganggu orang tidur?"
Sudah kubilang pasti ia tak mau. Aku diam saja sambil melirik, salahkan dia.
"Mau ikut kami, tidak?", dia berkata.
"Dingin-dingin begini? Gila..."
"Ya sudah, kalau tidak mau."

Dugaanku tak meleset. Kami berbalik, teruskan perjalanan. Tiba-tiba, dari belakang ada suara.

"Tunggu! Aku benci harus kenakan tudung ini tuk tutupi rambutku yang berantakan. Aku benci harus tinggalkan rumah tanpa berdandan. Ini semua salah kalian." Ia menggerutu, tapi ikut berlari bersama kami. Tempat tuk tegakkan tangga masih jauh.

Dan kami harus terobos kerumunan orang. Ada yang apatis, ada yang senyum sinis. Ada yang semangati, ada yang tampak iri. Kami terus berlari, tanpa henti. Dan kami tiba di destinasi. Kami tegakkan tangga. Aku siapkan hati. Karena ku tahu, ini bukan pekerjaan mudah.

"Aku naik."
"Kami akan selalu di sini. Jaga di bawah. Pegangi tangga. Selamat jalan", dia berkata.
"Cepatlah naik. Nanti kejora hilang. Lagipula aku ingin cepat selesai. Mau lanjutkan tidur", ia melanjutkan.

Aku injak anak tangga pertama, kedua, ketiga, dan berikutnya. Aku tambah kecepatan mendakiku. Tapi jarak kejora dan aku bagai tak memendek. Dia tetap angkuh. dan aku terus memanjat. Udara terasa makin dingin. Aku terus memanjat. Tapi kejora masih jauh. Tiba-tiba angin putus asa berhembus dengan kencang. Hebat menggoyang tangga. Aku takut. Takut jatuh. Aku berhenti memanjat. Kupikirkan niatku sekali lagi. Dan aku teriak.

"Aku tak sanggup! Aku turun sekarang. Ini mustahil!"
"Ini sudah tanggung! Tak sebaiknya kamu turun dan pendam impian. Teruskan. Percayakan semua pada kami. Kami akan selalu pegangi tangga ini", dia balas teriak.

Aku diam sejenak. Dalam hening, kubiarkan kata-katanya membakarku perlahan, mengembalikanku lagi ke aku yang penuh gairah, seperti beberapa jam yang lalu. Ya. Sudah kepalang basah. Kuteruskan memanjat. Tiba-tiba, bulu kudukku berdiri. Semua jadi begitu menakutkan. Apa ini, pikirku dalam ini. Aku merasa sekelebat sosok lewati aku. Saat aku gerakkan mata ke arahnya, sosok itu langsung lenyap. Aku tahu siapa itu. Pasti hantu sepi. Aku makin gentar. Aku takut. Takut sendiri. Aku berhenti memanjat. Aku menangis ketakutan, tapi kuberusaha keras agar tak terdengar dari bawah.

"Aku bawa sendok dari rumah," ia berkata sambil tertawa. Ia terus pukulkan sendok ke tangga, lahirkan bunyi tuk usir sepiku. "Jangan khawatir, kau tak pernah sendiri. Biar orang lain yang tak tahu ini menganggapku gila. Tapi aku ingin kau tahu kau tak akan sendiri!"

Ia terus tertawa. Dia pun terseret tertawa. Dan aku pun terbawa. Senyum lega melintang. Kutertawakan diriku yang bodoh, yang pengecut. Kujejakkan kakiku di anak tangga berikut. Kutengedahkan kepala. Masih jauh. Kejora masih angkuh.

Aku percepat gerak kaki. Dengan hati penuh harapan, senyum percaya diri, dan keyakinan tak akan pernah sendiri, aku lanjutkan pendakian. Terus ke atas. Terus dan terus.

Tiba-tiba saja, angin putus asa berlalu pergi. Hantu sepi angkat tangan tuk teruskan momoki aku. Dan... aku tak percaya ini. Tapi kejora tadi berkedip. Kejora benar-benar berkedip. Sekali saja, tapi cukup bagiku tuk menangkap maksudnya. Aku ada dan Kamu mampu....

Di bawah masih tetap meriah. Kujatuhkan senyum, sembari terus mendaki, kejar kejora...

...kalian tahu ini kutulis untuk kalian......

Love your job , but never fall in love with your company
because you never know, when your company stop fall in love with you


eva...

Saturday, May 28, 2005


Nikmatnya jadi wanita.....

Tuesday, May 24, 2005

dhang......

malam itu,
menyusuri jalan terjal ditengah hutan
dipayungi sinar bulan adalah suatu hal buatmu
tapi berjalan bersama perempuan itu adalah hal lainnya

badui,sun,22.05.05

Monday, May 23, 2005

foto pre-wedding

18 May 2005

Ke monas membuat foto prewedding pasangan yang akan kita nikahkan. Romantis.......(tak lupa disertai ancaman "awas kalo kalian gak jadi nikah" )